Langsung ke konten utama

Hidup dengan Prinsip Bola Jatuh


Gambar 1: Bola Jatuh
Semakin keras suatu bola terjatuh maka semakin tinggi pula bola tersebut melambung. Itulah prinsip yang kami gunakan untuk menghadapi masa-masa tersulit dalam kehidupan. Banyak diantara kita mengeluh bahkan merengek ketika dihadapkan oleh suatu masalah. Ingat, masalah bukan untuk dihindari tapi untuk dihadapi!

Tahun 2012, mungkin bisa dikatakan sebagai 'Hari Kiamat' untuk keluarga kami meskipun faktanya bumi masih tetap berputar hingga detik ini. Mulai dari usaha keluarga yang bangkrut, Ibu dan adik perempuanku kecelakaan, mobil masuk jurang, hingga akhirnya kami terlilit hutang. Dunia menjadi gelap, sempit, dan tak terarah. Kami hanya yakin bahwa ada hikmah dari setiap kejadian yang menimpa kami.

Namun, nampaknya kehidupan semakin sulit hingga motor yang saya gunakan untuk sekolahpun digadaikan untuk makan sehari-hari. Tidak kuat dengan keadaan tersebut akhirnya ibuku kabur ke luar kota untuk mencari pekerjaan. Keadaan semakin parah, karena motor yang saya gunakan untuk sekolah sudah tiada. Akhirnya saya harus naik angkutan umum, itupun saya harus berjalan dulu sekitar 1.5 KM dengan medan yang becek dan licin karena musim hujan. Pernah beberapa kali saya jalan dari sekolah hingga ke rumah sekitar 10 KM karena tidak ada angkutan. Capek pasti, malu pun kadang menghampiri namun semangat untuk menyelesaikan sekolah lebih tinggi.

Gambar 2: Lulusan SMAN 1 Gombong 2013
Dengan perjuangan bersama akhirnya saya bisa lulus SMA tahun 2013. Bahagia dan bangga memang, tapi saya juga bersedih karena adik saya tidak melanjutkan sekolah setelah lulus SMP dan bekerja demi saya mendapatkan ijazah tersebut. Saat itu saya bersumpah pada diri sendiri untuk segera mengakhiri derita kehidupan ini. Setelah menerima ijazah saya ke Tangerang untuk mendaftarkan adikku sekolah kembali setelah satu tahun berhenti dan di terima di sekolah pilihannya sesuai dengan minat yang Ia suka jurusan keperawatan di SMK Lab Business School, Tangerang.

Alhamdulillah, tidak terasa kami mampu melalui masa-masa itu dan sekarang keadaan sudah berbalik kembali. Usaha keluarga sudah membaik meskipun kami harus memulai nya dari nol kembali. Beberapa aset keluarga pun sudah dapat ditebus, dan beberapa hutang sudah dapat dilunasi. Satu hal terpenting adalah saya dan adik-adikku dapat melanjutkan Pendidikan hingga kejenjang yang lebih tinggi karena pendidikan merupakan salah satu jalan untuk mengeluarkan dari kebodohan dan kemiskinan.

Semoga cerita diatas dapat menginspirasi Anda untuk lebih semangat dalam menjalani kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminar Nasional dan Audisi Indonesia Mendongeng

Kabar gembira!! Ada info menarik nih buat teman-teman, Masih ada waktu untuk mendaftar Seminar Nasional bareng Kak Seto lho.. waktu kecil pernah didongengin sama Ibu  atau Mbah Uti? Atau sekarang kamu yang suka ngasih dongeng ke anak-anak? Cocok daftar Seminar Nasional "Indonesia Mendongeng" nih.. Untuk teman-teman Psikologi, PGSD, PLS, dan pawangnya anak-anak nih jurusan PG-PAUD yuk datang ke acara ini! Bakal banyak ilmu menarik nih disini. Seminar Nasional "Indonesia Mendongeng" Seminar ini dilaksanakan dibeberapa tempat bisa cek di broshure. Menariknya lagi bakal ada audisi "Indonesia Mendongeng" lho.. Dah, yang tertarik buru-buru daftar deh sebelum kehabisan. Audisi ini dilakukan se-Indonesia dan hadiahnya Ratusan Juta...!!! Selamat mencoba, semoga beruntung!

Belajar Mengerti dan Dimengerti dengan Pasangan

Wanita tidak ingin dipimpin, jika pria nya saja tidak dapat memimpin diri sendiri. (Dede Ardi Saputra, 2015) Sahabat, pernahkah kamu (pria) sesekali mencuri-curi waktu ditengah kesibukan mu untuk memberikan perhatian kepada wanita mu? Sebagai pria kita merasa memiliki kewajiban untuk memberikan nasihat dan membimbing wanita kita. Tak jarang karena saking perhatiannya justru kamu tidak memikirkan dirimu sendiri. Hati-hati, diam-diam wanita juga memperhatikan kita lho. Bagaimana mungkin kita dapat membimbing mereka (wanita) jika kita saja belum menjalankan apa yang kita ajarkan? Yuk para kaum Adam, kita refleksi diri! :)